Top

Melawan Hawa Nafsu, Jihad Terbesar?

August 1, 2008

salafy, islam
Berikut tanya jawab dr salah satu majalah Salafy, yaitu As-Sunnah edisi 04/2007.

Pertanyaan:
Di kitab manakah saya bisa membaca penjelasan mengenai hadits, “jihad yang paling besar adalah melawan hawa nafsu” adalah dha’if (lemah). Atau siapakah ulama yang mendha’ifkan?

Jawaban

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kami sampaikan sebagai berikut:

Jika yang anda maksud adalah hadits ini:

“Jihad yang paling utama adalah seorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad Dailami. Hadits ini dishahihkan oleh Sy. Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shagir, no 1099. Dan beliau menjelaskan lebih rinci dalam silsilah Ash-Shahihah n0.1496

Sy. Abdur Razaq bin Abdul-Muhsin Al Badr hafizhahullah berkata: “Jika kaum muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka sehingga dengan sebab itu terjadi kemenangan musuh terhadap mereka.” [1]

Kemudian beliau menukil pertanyaan Syaikhul Islam Ibny Taimiyah rahimahullah yang mengatakan: “Bilamana orang-orang kafir menang (atas umat Islam, red), maka tiada lain, sesungguhnya hal itu dikarenakan dosa-dosa kaum Muslimin yang menyebabkan iman mereka berkurang. Kemudian, jika kaum muslimin bertaubat dengan menyempurnakan iman mereka, maka Allah Ta’ala pasti akan menolong mereka.” [2]

Adapun jika hadits yang dimaksud adalah: “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.”
Tentang hadits di atas, Mulla ‘bin Ali Al-Qari rahimahullah menyebutkan di dalam Al-Asrar Al Marfu’ah halaman 127, belaiu menyatakan: “Al-Asqalani mengatakan di dalam Tashidun-Nufus, “Perkataan ini mahsyur di kalangan manusia, dan ini merupakan perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah di dalam kitab Al-Kuna karya An-Nasa-i.”

Kemudian Mulla Al-Qari rahimahullah berkata: “Hadits ini disebutkan di dalam kitab Ihya Ulumuddin. Al-Iraqi (di dalam kitab Az-Zuhd) dari Jabir, dan Al-Iqaqi berkata, ‘sanad hadits ini ada kelemahan.’ “

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menyebutkan hadits ini di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (5/478 no 2460) dan beliau mengatakan: “Mungkar”. Kemudian Sy. Al-Albani menjelaskan secara panjang lebar kelemahan hadits ini. Beliau juga menukil perkataan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah di dalam takhrij kitan Al-Kasysyaf, bahwa An-Nasa-I di dalam kitab Al-Kuna meriwayatkan sebagai perkataan Ibrahim bin Abi Abalah, seorang tabi’in dari penduduk Syam.

Sy. Al-Albani mengakhiri penjelasannya dengan menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang ahdits ini: “Tidak ada asalnya. Tidak ada seorangpun dari manusia yang mengetahui perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Nabi Shalallahu’alaihi wasalam yang meriwayatkannya. Dan jihad melawan orang-orang kafir termasuk sebesar-besar amalan, bahkan hal ini merupakan amalan tathawuu’ terbesar yang dilakukan manusia [3]

Kesimpulan, jihad melawan orang-orang kafir termasuk amalan yang paling utama. Tetapi hal ini tidak mungkin dilkukan, kecuali setelah jihad melawan hawa nafsunya.

Footnote:

[1] Khuthab wa Mawa’izh min Hajjatil Wada. Syaikh Abdur-Razaq bin Abdul Mahsin Al Badr –hal.53

[2] Al-Jawabush-Shahih Ilman Baddala Dinal-Mashih (6/450)

[3] Majmu Fatawa

Kembali ke menu utama Salafy.

Comments

Got something to say?






Comments links could be nofollow free.