Top

Hikmah Dalam Berdakwah 05

February 4, 2009

salafy islamAllah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk meniru ulul azmi dari kalangan para rasul-Nya,
فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل له .
Artinya: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka”. QS. Al-Ahqaf: 35.
Kita harus bersabar dalam berdakwah dan tidak tergesa-gesa untuk segera ingin memetik buah dari dakwah yang kita bangun.
Praktek kesyirikan dan bid’ah sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun mendarah daging di sebagian daerah bumi pertiwi, apakah akan kita rubah dalam satu atau dua malam atau hanya seperti kita membalik telapak tangan??
Read more

Hikmah Dalam Berdakwah 04

February 3, 2009

salafy islamJadi, kewajiban kita bukan hanya sebatas menyebarkan ilmu atau sunnah, tanpa mempertimbangkan fitnah yang akan ditimbulkan dari penyebaran tersebut -karena pemahaman masyarakat yang dihadapi belum sampai ke sana- .
Bahkan sebagian ulama seperti Imam Ibn al-Jauzi dan Imam Ibn ‘Aqil rahimahumallah mengatakan bahwa menyampaikan suatu ilmu kepada seseorang yang otaknya belum sampai untuk memahami ilmu tersebut, hukumnya adalah haram; karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah .
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu menasehatkan,
(حدثوا الناس بما يعرفون أتريدون أن يكذب الله ورسوله؟).
“Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya didustakan?” .
Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu menyampaikan nasehat serupa,
(ما أنت بمحدث قوماً حديثاً لا تبلغه عقولهم إلا كان فتنةً لبعضهم).
“Tidaklah engkau membicarakan suatu perkara kepada suatu kaum -yang tidak dapat mereka pahami- melainkan hal itu akan menimbulkan fitnah bagi sebagian dari mereka ” .

Hikmah Dalam Berdakwah 04

Hikmah Dalam Berdakwah 01

January 31, 2009

salafy islam. . . Masyarakat apalagi orang awam sangat terkesan dengan akhlak mulia, seringkali mereka lebih mencintai para dai ahlul bid’ah karena akhlak mereka yang mulia, padahal kita Ahlus Sunnah lebih berhak untuk berakhlak mulia.
Seyogyanya para da’i Ahlus Sunnah di samping berkonsentrasi membenahi akidah umat, mereka juga menyisipkan di dalam kajian-kajian mereka pentingnya akhlak yang mulia terutama berbakti kepada orang tua. Ibadah yang mulia ini -yakni berbakti kepada orang tua- telah sering dilupakan oleh banyak orang -bahkan sampai mereka yang sudah ‘ngaji’ pun terkadang lalai darinya-. Padahal jika ibadah yang mulia ini betul-betul diterapkan oleh para ikhwah Ahlus Sunnah dalam keseharian mereka; niscaya banyak ‘jurang-jurang lebar’ antara anak yang sudah ngaji dengan orang tua mereka yang masih awam; yang bisa dipersempit.
Kerenggangan antara orang tua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi sebagai dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, di satu sisi si anak berpegang teguh dengan al-haq yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah timbulnya kerenggangan antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orang tuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua yang luluh untuk menerima al-haq yang dibawa si anak, bukan karena pintarnya anak berargumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!
Ada tiga catatan penting di akhir bahasan ini:
Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia!
Kita bisa bermasyarakat tanpa mengikuti yasinan, tahlilan, maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya.
Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syari’at, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang masak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.
Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.
Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.
Jawabannya:
A. Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja, namun dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah , di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak.
Imam Bisyr al-Hafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah” .
B. Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syari’at islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penenerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!
Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu.
Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan ‘merenovasi’ akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!

Hikmah Dalam Berdakwah 01

Memahami kedekatan Alloh Subhanahu wa Ta’ala

January 27, 2009

salafy islamMerupakan aqidah seorang muslim bahwa Alloh dekat dengan hamba-Nya. Alloh Azza wa Jalla juga bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Dan merupakan kesalahan yang besar tatkala meyakini eksistensi Alloh dimana-mana. Lalu bagaimana memahami kedekatan Alloh Subhanahu wa ta’ala?

Silakan menyimak ulasannya disini.

Memahami kedekatan Alloh

Kembali ke menu Salafy

Kita Tidak Boleh Memaksa Orang

January 26, 2009

salafy islamAlhamdulillah segala puji bagi Alloh atas nikmat hidayah islam dan sunnah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapatkan ganjalan hati manakala kita melihat kesalahan yang dilakukan orang-orang sekitar kita, terlebih lagi jika tetangga, keluarga atau orang yang kita cintai.

Kadang sedih, jengkel, dongkol, dsb. manakala perbuatan salah itu terlintas di depan kita.

Bagaimana sikap hikmah kita dalam mengajak mereka kepada kebenaran?

Haruskah kita memaksa kepada orang lain?

Kita tidak boleh memaksa orang

Kembali ke menu Salafy

Bolehkah Menabung di Bank untuk Naik Haji

January 11, 2009

salafy islamHaji merupakan rukun islam. Bagaimana jika ibadah yang agung dan mulia ini dibangun diatas Muamalah dengan bank.

Simak ulasannnya disini.

Bolehkah Menabung di Bank untuk Naik Haji

Kembali ke menu Salafy

Bagaimana Dengan Bom Bunuh Diri?

December 31, 2008

salafy islamApakah dibenarkan dalam syariat melakukan peledakan dengan mengorbankan diri sendiri dalam syariat islam?

Silakan menyimak ulasannya berikut ini.

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Kembali ke menu Salafy

Apakah sama sholat fajar dan sholat sebelum shubuh?

December 30, 2008

salafy islamDalam Shohih Muslim, dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dari Nabi Sholallahu ‘alyhi wa sallam, beliau bersabda : “Sholat dua rakaat fajr lebih baik daripada dunia seisinya”.

Dan dalam riwayat lain disebutkan : “Dua raka’at shubuh itu lebih aku cintai daripada dunia seisinya”.

Sholat 2 rakaat fajr itu sama dengan sholat sebelum shubuh?

Silakan menyimak jawabannya disini.

Apakah sama sholat fajar dan sholat sebelum shubuh

Kembali ke menu Salafy

Bagaimana Isbal Jika Tidak Sombong

December 27, 2008

salafy islamApakah hukumnya memanjangkan pakaian (bagi laki-laki) di bawah mata kaki karena kesombongan?

Dan apakah dibenarkan jika isbal tetapi tidak sombong?

Bagaimana penjelasannya? Simak penjelasannya disini.

Bagaimana Isbal Jika Tidak Sombong

Kembali ke menu Salafy

Hukum Memakai Cincin Emas

December 21, 2008

salafy islamBagaimana hukumnya menggunakan cincin emas bagi laki-laki?

Bagaimana dengan cincin tunangan?

Apakah ia berpengaruh terhadap sah tidaknya suatu pernikahan?

Hukum Memakai Cincin Emas

Kembali ke menu Salafy

Next Page »