<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islam &#187; Akhlaq</title>
	<atom:link href="http://islamsalafee.com/category/akhlaq/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamsalafee.com</link>
	<description>Memahami Islam sesuai Rasulullah dan para sahabatnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Nov 2009 01:01:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hikmah Dalam Berdakwah 05</title>
		<link>http://islamsalafee.com/dakwah-manhaj-salafy/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/dakwah-manhaj-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 06:16:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala memerintahkan kepada kita untuk meniru ulul azmi  dari kalangan para rasul-Nya,
فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل له .
Artinya: &#8220;Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka&#8221;. QS. Al-Ahqaf: 35.
Kita harus bersabar dalam berdakwah dan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/26.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />Allah ta&#8217;ala memerintahkan kepada kita untuk meniru ulul azmi  dari kalangan para rasul-Nya,<br />
فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل له .<br />
Artinya: &#8220;Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka&#8221;. QS. Al-Ahqaf: 35.<br />
Kita harus bersabar dalam berdakwah dan tidak tergesa-gesa untuk segera ingin memetik buah dari dakwah yang kita bangun.<br />
Praktek kesyirikan dan bid’ah sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun mendarah daging di sebagian daerah bumi pertiwi, apakah akan kita rubah dalam satu atau dua malam atau hanya seperti kita membalik telapak tangan??<br />
<span id="more-402"></span> Barang siapa yang memaksakan untuk merubah kondisi masyarakat sekarang menjadi seperti kondisi para sahabat Nabi Sholallohu &#8216;alayhi wa sallam dulu dalam waktu sehari semalam, maka dia sangat jauh dari sikap hikmah dan tentunya ada &#8217;sesuatu yang tidak beres&#8217; di dalam otaknya .<br />
Bayangkan kesabaran Nabi Nuh ‘alaihissalam yang ‘berjibaku’ mendakwahkan tauhid kepada kaumnya selama 950 tahun!   Meskipun akhirnya hanya sedikit kaumnya yang mau beriman!<br />
Ya akhi, jalan dakwah itu panjang dan penuh rintangan … “Maka bersabarlah seperti kesabaran orang-orang yang memiliki keteguhan hati dari kalangan para rasul”… QS. Al-Ahqaf: 35.</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/dakwah/01_Hikmah dalam Berdakwah.mp3">Hikmah dalam Berdakwah  05 </a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/dakwah-manhaj-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Dalam Berdakwah 04</title>
		<link>http://islamsalafee.com/dakwah-manhaj-sunnah-salaf-fiqh-ilmu/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/dakwah-manhaj-sunnah-salaf-fiqh-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 06:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj-hikmah-ilmu-dakwah-tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Jadi, kewajiban kita bukan hanya sebatas menyebarkan ilmu atau sunnah, tanpa mempertimbangkan fitnah yang akan ditimbulkan dari penyebaran tersebut -karena pemahaman masyarakat yang dihadapi belum sampai ke sana- .
	Bahkan sebagian ulama seperti Imam Ibn al-Jauzi dan Imam Ibn ‘Aqil rahimahumallah mengatakan bahwa menyampaikan suatu ilmu kepada seseorang yang otaknya belum sampai untuk memahami ilmu tersebut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/27.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />Jadi, kewajiban kita bukan hanya sebatas menyebarkan ilmu atau sunnah, tanpa mempertimbangkan fitnah yang akan ditimbulkan dari penyebaran tersebut -karena pemahaman masyarakat yang dihadapi belum sampai ke sana- .<br />
	Bahkan sebagian ulama seperti Imam Ibn al-Jauzi dan Imam Ibn ‘Aqil rahimahumallah mengatakan bahwa menyampaikan suatu ilmu kepada seseorang yang otaknya belum sampai untuk memahami ilmu tersebut, hukumnya adalah haram; karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah .<br />
	Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu menasehatkan,<br />
(حدثوا الناس بما يعرفون أتريدون أن يكذب الله ورسوله؟).<br />
“Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya didustakan?” .<br />
	Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu menyampaikan nasehat serupa,<br />
(ما أنت بمحدث قوماً حديثاً لا تبلغه عقولهم إلا كان فتنةً لبعضهم).<br />
“Tidaklah engkau membicarakan suatu perkara kepada suatu kaum -yang tidak dapat mereka pahami- melainkan hal itu akan menimbulkan fitnah bagi sebagian dari mereka ” . </p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/dakwah/04_Hikmah dalam Berdakwah.mp3">Hikmah Dalam Berdakwah 04 </a> </p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/dakwah-manhaj-sunnah-salaf-fiqh-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Dalam Berdakwah 03</title>
		<link>http://islamsalafee.com/hikmah-salafy-manhaj-fiqih-tarbiyah/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/hikmah-salafy-manhaj-fiqih-tarbiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 06:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[salafy]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Jadi, kewajiban kita bukan hanya sebatas menyebarkan ilmu atau sunnah, tanpa mempertimbangkan fitnah yang akan ditimbulkan dari penyebaran tersebut -karena pemahaman masyarakat yang dihadapi belum sampai ke sana- .
	Bahkan sebagian ulama seperti Imam Ibn al-Jauzi dan Imam Ibn ‘Aqil rahimahumallah mengatakan bahwa menyampaikan suatu ilmu kepada seseorang yang otaknya belum sampai untuk memahami ilmu tersebut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/28.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />Jadi, kewajiban kita bukan hanya sebatas menyebarkan ilmu atau sunnah, tanpa mempertimbangkan fitnah yang akan ditimbulkan dari penyebaran tersebut -karena pemahaman masyarakat yang dihadapi belum sampai ke sana- .<br />
	Bahkan sebagian ulama seperti Imam Ibn al-Jauzi dan Imam Ibn ‘Aqil rahimahumallah mengatakan bahwa menyampaikan suatu ilmu kepada seseorang yang otaknya belum sampai untuk memahami ilmu tersebut, hukumnya adalah haram; karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah .<br />
	Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu menasehatkan,<br />
(حدثوا الناس بما يعرفون أتريدون أن يكذب الله ورسوله؟).<br />
“Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya didustakan?” .<br />
	Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu menyampaikan nasehat serupa,<br />
(ما أنت بمحدث قوماً حديثاً لا تبلغه عقولهم إلا كان فتنةً لبعضهم).<br />
“Tidaklah engkau membicarakan suatu perkara kepada suatu kaum -yang tidak dapat mereka pahami- melainkan hal itu akan menimbulkan fitnah bagi sebagian dari mereka ” . </p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/dakwah/03_Hikmah dalam Berdakwah.mp3">Hikmah Dalam Berdakwah 03 </a> </p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/hikmah-salafy-manhaj-fiqih-tarbiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Dalam Berdakwah 02</title>
		<link>http://islamsalafee.com/hikmah-dakwah-manhaj-salaf-fiqih/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/hikmah-dakwah-manhaj-salaf-fiqih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 06:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[. . . Setelah kita mengetahui bahwa shalat dengan memakai sandal hukumnya adalah sunnah, sekarang ketika kita akan mempraktekkan sunnah ini, kita harus mempertimbangkan kesiapan masyarakat untuk menerima sunnah ini, juga apakah akan timbul fitnah seandainya sunnah ini di terapkan di masjid-masjid di tanah air atau tidak?
 	Jika kita berada di suatu komunitas yang di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/28.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />. . . Setelah kita mengetahui bahwa shalat dengan memakai sandal hukumnya adalah sunnah, sekarang ketika kita akan mempraktekkan sunnah ini, kita harus mempertimbangkan kesiapan masyarakat untuk menerima sunnah ini, juga apakah akan timbul fitnah seandainya sunnah ini di terapkan di masjid-masjid di tanah air atau tidak?<br />
 	Jika kita berada di suatu komunitas yang di situ orang-orang telah memahami sunnah tersebut dan telah siap untuk menerimanya, maka silahkan terapkan.<br />
	Namun jika kita berada di lingkungan yang penduduknya sangat awam dan tidak tahu akan sunnah tersebut, malah mungkin jika kita memasuki masjid dengan memakai sandal, kita akan ‘pulang tinggal nama’ atau minimal akan menimbulkan percekcokan dan baku hantam; maka saat itu bukan merupakan hikmah untuk memaksakan diri menerapkan sunnah tersebut di situ .<br />
	Berarti kalau demikian akan berdampak matinya sunnah tersebut!! Tidak juga, kita bisa menjelaskan sunnah tersebut dengan lisan kita kepada masyarakat di dalam pengajian-pengajian agar mereka paham terlebih dahulu. Kalaupun mereka belum bisa menerima kita bisa menerapkan sunnah ini ketika kita shalat di alam terbuka, seperti: di lapangan, di kebun, di hutan atau di tempat lain yang tidak mengundang fitnah .<br />
Lagi pula yang termasuk katagori perbuatan menyerupai orang Yahudi adalah: jika kita sama sekali meninggalkan sunnah shalat dengan memakai sandal. Adapun jika terkadang kita menerapkannya, meskipun tidak di masjid -karena masyarakat belum siap-, maka hal ini tidak termasuk dalam katagori menyerupai orang Yahudi.<br />
Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah menjelaskan, “Di antara perbuatan yang termasuk tindak menyerupai musuh-musuh Allah: meninggalkan sama sekali (sunnah) shalat dengan memakai sandal dan khuff” . </p>
<p>Terakhir, semua apa yang kami sebutkan di atas sama sekali bukan dalam rangka ‘menggembosi&#8217; ikhwah yang sedang bersemangat untuk berusaha menghidupkan sunnah-sunnah tersebut di atas. Juga bukan dalam rangka menguburkan sunnah-sunnah yang memang pada dasarnya -di sebagian tempat- telah terkubur dalam. Juga bukan dalam rangka mengingkari sunnahnya amalan-amalan di atas. Sama sekali tidak!</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/dakwah/02_Hikmah dalam Berdakwah.mp3">Hikmah Dalam Berdakwah 02 </a> </p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/hikmah-dakwah-manhaj-salaf-fiqih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Dalam Berdakwah 01</title>
		<link>http://islamsalafee.com/hikmah-dakwah-manhaj-fiqh-tarbiyah/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/hikmah-dakwah-manhaj-fiqh-tarbiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 06:39:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[. . . Masyarakat apalagi orang awam sangat terkesan dengan akhlak mulia, seringkali mereka lebih mencintai para dai ahlul bid’ah karena akhlak mereka yang mulia, padahal kita Ahlus Sunnah lebih berhak untuk berakhlak mulia.
Seyogyanya para da&#8217;i Ahlus Sunnah di samping berkonsentrasi membenahi akidah umat, mereka juga menyisipkan di dalam kajian-kajian mereka pentingnya akhlak yang mulia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/28.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />. . . Masyarakat apalagi orang awam sangat terkesan dengan akhlak mulia, seringkali mereka lebih mencintai para dai ahlul bid’ah karena akhlak mereka yang mulia, padahal kita Ahlus Sunnah lebih berhak untuk berakhlak mulia.<br />
Seyogyanya para da&#8217;i Ahlus Sunnah di samping berkonsentrasi membenahi akidah umat, mereka juga menyisipkan di dalam kajian-kajian mereka pentingnya akhlak yang mulia terutama berbakti kepada orang tua. Ibadah yang mulia ini -yakni berbakti kepada orang tua- telah sering dilupakan oleh banyak orang -bahkan sampai mereka yang sudah &#8216;ngaji&#8217; pun terkadang lalai darinya-. Padahal jika ibadah yang mulia ini betul-betul diterapkan oleh para ikhwah Ahlus Sunnah dalam keseharian mereka; niscaya banyak &#8216;jurang-jurang lebar&#8217; antara anak yang sudah ngaji dengan orang tua mereka yang masih awam; yang bisa dipersempit.<br />
Kerenggangan antara orang tua dan anak itu seringkali terjadi akibat &#8216;benturan-benturan&#8217; yang terjadi sebagai dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, di satu sisi si anak berpegang teguh dengan al-haq yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah timbulnya kerenggangan antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orang tuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua yang luluh untuk menerima al-haq yang dibawa si anak, bukan karena pintarnya anak berargumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!<br />
Ada tiga catatan penting di akhir bahasan ini:<br />
Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita &#8216;melarutkan&#8217; diri dalam ritual-ritual bid&#8217;ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia!<br />
Kita bisa bermasyarakat tanpa mengikuti yasinan, tahlilan, maulidan atau acara-acara bid&#8217;ah lainnya.<br />
Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syari&#8217;at, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang masak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.<br />
Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid&#8217;ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang &#8216;tidak ada tawar-menawar&#8217; di dalamnya.<br />
Kedua: Sebagian pihak &#8216;mengolok-olok&#8217; beberapa da&#8217;i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid&#8217;ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.<br />
Jawabannya:<br />
A. Barangkali pihak yang gemar &#8216;mengolok-olok&#8217; itu lupa bahwa dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja, namun dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah , di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak.<br />
Imam Bisyr al-Hafi rahimahullah berkata, &#8220;Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah&#8221; .<br />
B. Seandainya ada sebagian ahlul bid&#8217;ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syari&#8217;at islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penenerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!<br />
Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung &#8216;menjauhi&#8217; mereka dan memilih &#8216;bergabung&#8217; dengan kelompok-kelompok ahlul bid&#8217;ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu.<br />
Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan &#8216;merenovasi&#8217; akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/dakwah/01_Hikmah dalam Berdakwah.mp3">Hikmah Dalam Berdakwah 01 </a> </p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/hikmah-dakwah-manhaj-fiqh-tarbiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makalah Hikmah Dalam Berdakwah</title>
		<link>http://islamsalafee.com/minhajus-sunnah-salafy/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/minhajus-sunnah-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 06:44:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah. fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah makalah &#8220;Hikmah Dalam Berdakwah-Ust. Abdullah Zaen, Lc) yang ditulis dan direkam kajiannya, yang mana penulis bawakan beberapa contoh sikap hikmah dalam berdakwah, karena dengan membawakan contoh praktek nyata dari sikap hikmah inilah, banyak orang bisa memahami teori-teori sikap hikmah yang biasa kita dengar dalam ceramah-ceramah, atau kajian-kajian Islam.

Berhubung definisi dari hikmah adalah: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/18.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />Berikut ini adalah makalah &#8220;Hikmah Dalam Berdakwah-Ust. Abdullah Zaen, Lc) yang ditulis dan direkam kajiannya, yang mana penulis bawakan beberapa contoh sikap hikmah dalam berdakwah, karena dengan membawakan contoh praktek nyata dari sikap hikmah inilah, banyak orang bisa memahami teori-teori sikap hikmah yang biasa kita dengar dalam ceramah-ceramah, atau kajian-kajian Islam.</p>
<p><span id="more-412"></span><br />
Berhubung definisi dari hikmah adalah: &#8220;Tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai&#8221;, dan hal itu tidak akan tercapai melainkan dengan membangunnya di atas pilar-pilarnya, dan pilar yang paling utama adalah ilmu yang dilandaskan di atas al-Qur&#8217;an dan hadits dengan pemahaman generasi terbaik umat ini dan para ulama yang setia meniti jalan mereka; maka penulis akan berusaha semampunya -dengan segala keterbatasan yang ada- untuk melandaskan setiap contoh di atas dalil-dalil dari al-Qur&#8217;an dan hadits, serta menghiasinya dengan perkataan atau praktek para ulama Ahlus Sunnah zaman dulu maupun sekarang.</p>
<p>Makalah ini sudah dikoreksi oleh beberapa ulama. Diantaranya para ulama tersebut adalah: Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 5/1/1428 dan 20/1/1428 H, Syaikh Dr. Ali bin Ghazi at-Tuwaijiri hafizhahullah (Dosen Tafsir Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428 H, Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahab al-‘Aqil hafizhahullah (Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah) pada tanggal 4/1/1428, 8/1/1428 dan 8/2/1428 H, Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani hafizhahullah (Da’i di kota Madinah dan penulis buku Madarik an-Nazhar (Pandangan Tajam terhadap Politik) pada tanggal 17/1/1428 H, Syaikh Dr. Yusuf bin Muhammad ad-Dakhil hafizhahullah (Dosen Hadits Universitas Islam Madinah) pada tanggal 19/1/1428 H dan Syaikh Dr. Abu Ibrahim bin Sulthan al-&#8217;Adnani hafizhahullah (Dosen Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah dan penulis buku al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah) pada tanggal 15/3/1428 H .</p>
<p>Semoga penulis diberi taufiq oleh Allah ta&#8217;ala untuk menyampaikan yang haq, amien.</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/dakwah/Makalah_Hikmah_dalam_Berdakwah.zip">Makalah Hikmah Dalam Berdakwah </a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/minhajus-sunnah-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami kedekatan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala</title>
		<link>http://islamsalafee.com/fatwa-aqidah-manhaj-sunnah/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/fatwa-aqidah-manhaj-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 05:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmatunissa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Merupakan aqidah seorang muslim bahwa Alloh dekat dengan hamba-Nya. Alloh Azza wa Jalla juga bersemayam di atas &#8216;arsy-Nya. Dan merupakan kesalahan yang besar tatkala meyakini eksistensi Alloh dimana-mana. Lalu bagaimana memahami kedekatan Alloh Subhanahu wa ta&#8217;ala?
Silakan menyimak ulasannya disini.
Memahami kedekatan Alloh  
Kembali ke menu Salafy

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/50.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />Merupakan aqidah seorang muslim bahwa Alloh dekat dengan hamba-Nya. Alloh Azza wa Jalla juga bersemayam di atas &#8216;arsy-Nya. Dan merupakan kesalahan yang besar tatkala meyakini eksistensi Alloh dimana-mana. Lalu bagaimana memahami kedekatan Alloh Subhanahu wa ta&#8217;ala?</p>
<p>Silakan menyimak ulasannya disini.</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/TanyaJawabAqidahManhaj/007_Dekatkah Allah.mp3">Memahami kedekatan Alloh </a> </p>
<p>Kembali ke menu <a href="http://islamsalafee.com">Salafy</a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/fatwa-aqidah-manhaj-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Tidak Boleh Memaksa Orang</title>
		<link>http://islamsalafee.com/dakwah-hikmah-sunnah-salaf/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/dakwah-hikmah-sunnah-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 07:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah segala puji bagi Alloh atas nikmat hidayah islam dan sunnah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapatkan ganjalan hati manakala kita melihat kesalahan yang dilakukan orang-orang sekitar kita, terlebih lagi jika tetangga, keluarga atau orang yang kita cintai. 
Kadang sedih, jengkel, dongkol, dsb. manakala perbuatan salah itu terlintas di depan kita.
Bagaimana sikap hikmah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/47.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />Alhamdulillah segala puji bagi Alloh atas nikmat hidayah islam dan sunnah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapatkan ganjalan hati manakala kita melihat kesalahan yang dilakukan orang-orang sekitar kita, terlebih lagi jika tetangga, keluarga atau orang yang kita cintai. </p>
<p>Kadang sedih, jengkel, dongkol, dsb. manakala perbuatan salah itu terlintas di depan kita.</p>
<p>Bagaimana sikap hikmah kita dalam mengajak mereka kepada kebenaran?</p>
<p>Haruskah kita memaksa kepada orang lain?</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/TanyaJawabAqidahManhaj/047_Kita tidak boleh memaksa orang .mp3">Kita tidak boleh memaksa orang </a> </p>
<p>Kembali ke menu <a href="http://islamsalafee.com">Salafy</a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/dakwah-hikmah-sunnah-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Kelapangan Mencari Rezeki</title>
		<link>http://islamsalafee.com/salafy-7/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/salafy-7/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 04:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmatunissa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[“Mencari yang haram aja susah-apalagi yang halal” sebagian orang mengatakan demikian. Kadang mereka katakan sebagai dalih mereka untuk melegalkan usaha mereka dari sumber penghasilan yang haram atau syubhat (Tidak jelas kehalalannya).
Padahal Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemberi akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah manapun apabila kita bertaqwa.
Bukankah seekor burung pipit pergi mencari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/45.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" />“Mencari yang haram aja susah-apalagi yang halal” sebagian orang mengatakan demikian. Kadang mereka katakan sebagai dalih mereka untuk melegalkan usaha mereka dari sumber penghasilan yang haram atau syubhat (Tidak jelas kehalalannya).</p>
<p>Padahal Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemberi akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah manapun apabila kita bertaqwa.</p>
<p>Bukankah seekor burung pipit pergi mencari makan pada pagi harinya dalam keadaan perut kosong lalu ia kembali dalam perut kenyang. Demikian pula hewan melata lainnya, Allah telah menetapkan rezeki bagi mereka.</p>
<p>Nah, Bagaimana dengan manusia yang Alloh telah karuniakan kepada mereka akal yang baik dan kelengkapan jasmani? Semestinya keadaan mereka lebih baik dan lebih mudah dari makhluk lainnya sebagai hamba Alloh di muka bumi ini.</p>
<p>Silakan menyimak kajiannya disini.</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/ustarmen/Jalan kelapangan dalam mencari rizki_ustadz Armen Halim Naro  Rohimahulloh.mp3 ">Jalan Kelapangan Mencari Rezeki </a></p>
<p>(taken from www.radiorodja.com)</p>
<p>Kembali ke menu <a href="http://islamsalafee.com">Salafy</a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/salafy-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat</title>
		<link>http://islamsalafee.com/manhaj-tazkiyatun-nufus/</link>
		<comments>http://islamsalafee.com/manhaj-tazkiyatun-nufus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 12:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsalafee.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[
Diantara slogan yang sering kita dengar adalah “keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Benarkah ungkapan tersebut? Bagaimana Sikap benar seorang muslim seharusnya?
Simak ulasannya berikut ini.
Adakah Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat 
Kembali ke menu Salafy

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://islamsalafee.com/wp-admin/images/43.jpg" alt="salafy islam" width="248" height="242" /></p>
<p>Diantara slogan yang sering kita dengar adalah “keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Benarkah ungkapan tersebut? Bagaimana Sikap benar seorang muslim seharusnya?</p>
<p>Simak ulasannya berikut ini.</p>
<p><a title="salafy" href="http://islamsalafee.com/wp-admin/donlot/168_Apakah ada keseimbangan antara dunia dan akherat.mp3">Adakah Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat </a></p>
<p>Kembali ke menu <a href="http://islamsalafee.com">Salafy</a></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsalafee.com/manhaj-tazkiyatun-nufus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
